Dinar Ekspose, Lambar–Awan gelap yang tengah menggantung di atas gedung Dinas Perkebunan dan Peternakan. Aroma tak sedap menyeruak dari balik tumpukan berkas laporan keuangan. Kali ini, bukan pupuk atau pakan ternak yang dibahas melainkan angka-angka fantastis dalam pos anggaran perjalanan dinas yang menyisakan banyak tanya.
Rp 675.823.000.
Itulah angka yang kini menghantui catatan anggaran Dinas Perkebunan dan Peternakan. Bukan jumlah kecil. Anggaran yang seharusnya mengalir untuk menghidupkan lahan-lahan pertanian, menyelamatkan peternak dari kelangkaan pakan, atau menyediakan vaksin bagi hewan ternak, justru diduga menguap lewat laporan perjalanan dinas yang janggal bahkan, mungkin saja fiktif.
Anggaran perjalanan dinas tersebut mencakup berbagai jenis kegiatan, Belanja Perjalanan Dinas Dalam Kota, Perjalanan Dinas Biasa, Paket Meeting
Namun investigasi awal menunjukkan ketidaksesuaian dengan regulasi, khususnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49 Tahun 2023 dan Perbup Lampung Barat Nomor 11 Tahun 2024. Anggaran harian yang tercatat jauh melampaui standar, bahkan tanpa dokumentasi atau urgensi yang masuk akal. Seolah-olah perjalanan itu hanya ada di atas kertas dan sebuah fatamorgana belaka.
“Ada perjalanan yang tidak pernah terjadi, tetapi dananya dicairkan. Ada juga laporan yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan,” ungkap seorang narasumber internal yang enggan disebut namanya.
Apakah ini kelalaian administratif? Atau memang dirancang sedemikian rupa dalam skema korupsi yang rapi dan sistematis?
Lembaga Gerakan Masyarakat Anti Korupsi (GEMAK) Lampung pun tak tinggal diam. Suara kritis mereka menggaung ke penjuru ruang publik.
“Jika ini benar adanya, maka kita sedang menyaksikan pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” tegas Hendro Prioyono Ketua GEMAK dengan nada getir”.
GEMAK dengan tegas menyerukan agar aparat penegak hukum segera turun tangan. Mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan yang paling utama: keadilan.
“Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah luka di tubuh bangsa. Dan luka itu kini menganga di Lampung Barat, seolah anggaran fantastis menguap diatas kertas. kami akan mengawal secara intens mengenai dugaan korupsi ini”. ujar Ketua GEMAK Lampung, menutup pernyataannya.
Sementara ditengah desas desus Dugaan korupsi tersebut, Dinas Perkebunan dan Peternakan lampung barat Justru bungkam. Seolah anggaran hanyalah angka-angka mati yang tak berjiwa.
Padahal, di luar sana, ada petani yang menunggu bantuan bibit, ada peternak yang berharap pada subsidi pakan, ada rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya pada tanggung jawab para pejabat yang kini diduga bermain api dengan uang negara. (Tim/Red)

