Bandar Lampung–Ketua Komisi III DPRD Bandar Lampung, Agus Djumadi, menegaskan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), tetapi juga harus mengantongi izin Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).Panduan Kota & Daerah
Menurut Agus, keberadaan izin IPAL menjadi hal penting mengingat jumlah dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) di Bandar Lampung mencapai hampir 80 titik. Setiap dapur bahkan mampu memproduksi hingga 3.000 porsi makanan per hari.
“Kami meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan pengecekan kembali. Kalau satu dapur memproduksi 3.000 porsi makanan, tentu harus diuji berapa jumlah limbahnya dan apakah sudah memiliki izin IPAL,” ujar Agus saat ditemui di ruang Komisi III, Senin (23/2/2026).
Ia membandingkan dengan rumah makan padang yang kapasitas produksinya tidak sampai ribuan porsi per hari, namun tetap diwajibkan memiliki sertifikat IPAL. Karena itu, menurutnya, dapur-dapur MBG juga harus memenuhi standar pengolahan limbah yang sama, bahkan lebih ketat.
Agus menjelaskan, sebagian besar dapur MBG berada di lingkungan permukiman warga dan lokasinya saling berdekatan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila limbah tidak dikelola dengan baik.
“Dapur ini langsung berhubungan dengan lingkungan warga. Jadi pengelolaan limbahnya harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai tidak ada standar yang jelas,” tegasnya.
Selain limbah dapur MBG, Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung juga menyoroti limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), khususnya dari klinik kecantikan yang menghasilkan limbah mengandung merkuri. Agus menekankan, limbah B3 harus dikelola di ruang khusus dan sesuai aturan yang berlaku.
“Harus ada ruang dan sistem khusus untuk mengolah limbah B3 ini. Kami minta DLH Kota bergerak dan melakukan pengecekan secara menyeluruh,” katanya.
Agus mengingatkan, meskipun dapur MBG bersifat sosial, pemerintah tetap wajib memastikan pengelolaan limbahnya tidak berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Ini limbah yang berdampak langsung pada lingkungan. Rumah makan saja wajib punya IPAL, apalagi dapur dengan produksi 3.000 porsi per hari. Jangan sampai pemerintah kecolongan,” pungkasnya.(*)

