Dinar Ekspose,Bandar Lampung – Tangis keluarga pecah ketika Alesha Erina Putri, bayi mungil berusia dua bulan, menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan dan operasi di RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM). Bayi asal Kalianda, Lampung Selatan, itu menjadi korban buruknya pelayanan medis yang dinilai lamban, minim fasilitas, dan penuh tanda tanya.
Alesha merupakan buah hati pertama pasangan muda Sandi Saputra (27) dan Nida Usofie (23). Harapan mereka menyaksikan sang buah hati tumbuh besar sirna seketika usai derita panjang yang ditanggung si kecil di rumah sakit rujukan utama Provinsi Lampung itu.
“Kami kecewa, anak kami tidak tertolong karena pelayanan yang lambat dan tindakan dokter yang membingungkan,” lirih Nida, sang ibu, dengan mata sembab.
Alesha awalnya dirujuk ke RSUDAM pada 9 Juli 2025 dan baru menjalani rontgen sepuluh hari kemudian. Hasilnya, ia didiagnosis menderita penyakit Hirschsprung. Namun meski berstatus peserta BPJS kelas II, bayi malang itu justru ditempatkan di ruang kelas III.
“Pihak rumah sakit bilang sekarang semua ruangan tanpa kelas,” ujar Sandi dengan nada getir.
Lebih memilukan, ketika konsultasi dengan dokter berinisial BR, keluarga ditawarkan dua pilihan operasi. Opsi pertama, operasi dengan kantung stoma yang ditanggung BPJS. Opsi kedua, operasi sekali tindakan dengan alat medis yang tak ditanggung BPJS.
Keluarga yang ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya akhirnya dipaksa merogoh Rp8 juta—bukan ke kas rumah sakit, melainkan langsung ke rekening pribadi sang dokter. “Setelah kami transfer, baru dokter menunjukkan gambar alat yang katanya harus dibeli. Padahal awalnya ia tak mau menjelaskan alat apa,” tutur Sandi dengan suara bergetar.
Yang lebih mengejutkan, meski dokter sempat menyebut butuh 10 hari pemesanan alat, keesokan harinya alat tersebut tiba-tiba sudah tersedia.
Operasi digelar pada 19 Agustus 2025 pukul 10.00 WIB dan berakhir empat jam kemudian. Namun pascaoperasi, kondisi bayi justru memburuk. Keluarga bahkan curiga alat yang dipakai sudah lama tersimpan, terlihat usang dengan kemasan penyok.
Layanan medis pun jauh dari kata layak. Elda, kerabat pasien, menyaksikan sendiri bagaimana pascaoperasi baju dan popok bayi penuh bercak darah namun tak segera diganti. “Bahkan saat selang hidung bergeser, perawat hanya bilang tunggu sebentar karena sedang menangani pasien lain,” ungkapnya pedih.
Ketika kondisi bayi kritis, keluarga berharap ruang PICU bisa menyelamatkan. Namun ruang itu penuh, dan pihak RSUDAM justru meminta keluarga mencari sendiri rumah sakit lain yang memiliki PICU kosong.
Keluarga akhirnya berupaya ke RS Urip Sumoharjo. Namun keterlambatan membuat Alesha menghembuskan napas terakhir sebelum sempat mendapat penanganan intensif.
Derita tak berhenti di situ. Saat keluarga hendak membawa pulang jenazah, RSUDAM menyebut ambulans tidak ditanggung BPJS dan meminta biaya Rp1,5 juta. Namun ironisnya, ketika keluarga pasrah hendak pulang tanpa ambulans, baru ada petugas datang sambil bercanda, “Habis keliling.”
Jenazah Alesha dimakamkan sederhana di kampung halamannya, Dusun Sinar Baru, Kelurahan Way Urang, Kalianda, pada 20 Agustus 2025. Tangisan keluarga pecah, menyatu dengan tanah merah yang menutup tubuh mungilnya.
“Kami hanya ingin ada itikad baik, agar tidak ada lagi pasien yang bernasib seperti anak kami,” tegas Nida, penuh luka dan harap.
Sementara itu, Direktur RSUDAM, dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes., menyampaikan rasa duka mendalam atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa kejadian itu bukan kebijakan rumah sakit, melainkan tindakan oknum.
“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga. Kami sangat prihatin, dan rumah sakit akan merespons cepat kejadian ini. Jika ada praktik di luar ketentuan resmi, itu murni ulah oknum, bukan kebijakan RSUDAM,” kata Imam. (*)

