Pubian-Dengan hati yang penuh rasa syukur dan harapan yang mendalam, kami haturkan kabar bahagia ini. Segala puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan ridho dan kasih sayang-Nya, sehingga langkah kebaikan ini dapat terwujud.

Tanggal 25 -10- 2026, di tanah tercinta Negeri Kepayungan, akan terukir sebuah peristiwa agung dan penuh keindahan penyatuan dua keluarga dalam ikatan suci pernikahan yang insya Allah diberkahi, dilaksanakan dengan menjunjung tinggi tata cara adat istiadat leluhur kita yang luhur.

Menjelang hari bahagianya, M. Dio Fajri Pratama, A.Md.P menyampaikan perasaannya kepada awak media dengan suara yang lembut namun tulus:

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Di hari pernikahan saya ini, kedua nenek saya baik nenek dari pihak ayah maupun nenek dari pihak ibu masih diberikan kesehatan dan dapat hadir menyaksikan momen ini. Sungguh, kehadiran mereka di sisi saya adalah salah satu kebahagiaan terbesar yang saya rasakan hari ini.”

“Namun di saat yang sama, hati saya juga teringat kepada kedua kakek saya. Beliau berdua telah lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT dan tidak dapat hadir di sini bersama kita semua. Sudah cukup lama beliau berdua tiada. Meski raga mereka tidak ada di sini, namun doa dan kasih sayang mereka tetap terasa menyertai langkah saya. Saya yakin, kebahagiaan hari ini juga menjadi harapan yang beliau dambakan untuk saya dari tempat yang jauh.”

Ucapan sederhana namun menyentuh ini menggambarkan kebahagiaan yang utuh bahagia karena masih dicintai dan didampingi orang-orang terkasih, sekaligus menghormati kenangan mereka yang telah pulang ke rahmatullah.

Resepsi pernikahan putra pertama dari Bapak Nuhdi Yuda Sastra, A.Md dan Ibu Ovita Vera ini akan berjalan sesuai alur adat yang penuh makna:

Pertama Nyambuk dari Lebu:, langkah awal yang penuh kerendahan hati, membawa harapan dan doa tulus untuk membuka jalan kebaikan sebelum prosesi utama dimulai.

Nyambuk Kelama Penetok Galah: dari Gunung Haji, sebuah prosesi adat yang sakral dan bermakna menegaskan niat yang lurus dan tekad yang bulat dalam penyatuan kedua keluarga, sebagaimana galah yang menancap kokoh di tanah.

Ketiga Nyambuk dari pihak Sabay Dilanjutkan dengan penyambutan dari pihak perempuan, sebagai wujud keikhlasan dan kebahagiaan menyambut penyatuan dua keluarga besar.

Arak-arakan Turun Mandi /ngekuruk di Pancah Haji : Puncak acara yang paling dinanti. Arak-arakan penuh sukacita menjadi saksi kebahagiaan, dan prosesi Kawin Pancah Aji menjadi ikrar suci abadi yang mempersatukan jiwa kedua mempelai di bawah naungan adat, agama, dan ridho Allah SWT.

Kehadiran para Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, dan para sesepuh dari seluruh kampung di Kecamatan Pubian — dari enam kampung yang ada di wilayah kita menjadikan acara ini bukan sekadar pesta pernikahan biasa. Kehangatan yg yg persaudaraan terasa begitu nyata. Bukan hanya meriah karena perayaannya, tetapi meriah karena hati yang saling menyapa, meriah karena doa yang terangkai menjadi satu.

Mempelai Pria M. DIO FAJRI PRATAMA, A.Md.P Putra dari Bapak Nuhdi Yuda Sastra, A.Md & Ibu Ovita Vera (Negeri Kepayungan, Kecamatan Pubian)
Mempelai Wanita NOFITA SARY, S.Ak Putri dari Bapak Aliman & Ibu Bainah ( Batin Buai Kunang Tiyuh Pajar Bulan, Kecamatan Gunung Sugih)

Semoga dengan terhubungnya Tuha Telu Suku, Negeri Kepayungan, dan Pajar Bulan dalam ikatan kasih yang abadi ini, prosesi ini menjadi pondasi yang kokoh bagi rumah tangga kedua anak kita. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi mereka, memberkati setiap langkah mereka, dan menjadikan mereka pasangan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah hingga akhir hayat.

Mari kita nantikan bersama hari yang indah itu, dan sampaikan doa restu terbaik kita untuk Dio dan Nofita. (Iron Guna)

Tinggalkan Balasan