DINAR EKSPOSE — Dunia persilatan birokrasi Provinsi Lampung mendadak gempar. Bukan karena prestasi membangun penahan banjir yang megah, melainkan lahirnya sebuah padepokan sakti di tubuh BPBD Lampung: Padepokan yang memakai Ilmu Halimun
Tokoh utamanya adalah Pendekar Firdaus, sang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pemilik Jurus Halimun tingkat puncak Ilmu Menghilang Tanpa Bayangan. Namun yang makin membuat publik berdecak kagum, kesaktian ini ternyata meluas menjadi kekuatan kolektif seluruh petinggi BPBD Lampung.
Saat ribuan warga Dusun Bunut Tengah dan Bunut Pasar sibuk memperdalam ilmu pasrah dalam menyambut ancaman banjir yang bisa datang kapan saja. para pejabat BPBD Lampung justru kompak memamerkan jurus bertahan paling ampuh sepanjang sejarah birokrasi: Ajian Rapat Gaib.
Begitu aroma kebobrokan proyek tercium dan temuan audit BPK senilai Rp1,108 miliar mencuat (CV AJLK), Puf! Bukan cuma Pendekar Firdaus yang melayang menjadi asap, melainkan seluruh pimpinan dan pejabat terkait di BPBD Lampung ikut-ikutan sirnah dari alam nyata.
Para juru warta yang mengandalkan kamera dan mikrofon bak pasukan pencari kitab suci kini dibuat klimpungan. Mendatangi kantor BPBD Lampung sama halnya dengan mendatangi pertapaan keramat, Setiap kali hendak dikonfirmasi, staf penjaga pintu selalu menyanyikan mantra otomatis yang sama: “Bapak Kepala dan jajaran sedang rapat.
Begitu juga dengan Saluran komunikasi resmi maupun pribadi kompak centang dua abu-abu, dialihkan, atau dibiarkan tanpa nada dering.
Sikap diam ini bukan lagi sekadar menghindar dari jurnalis, melainkan bentuk sikap dingin dan masa bodoh yang dipertontonkan jajaran pejabat atas ancaman keselamatan rakyat di bantaran Sungai Way Ratai.
Menurut desas-desus di lingkaran padepokan birokrasi, tingginya ilmu menghindar milik Pendekar Firdaus dan restu bungkam dari para atasannya ini diraih melalui sederet ritual ajaib:
Seperti Menyulap janji tanggul setinggi 3 meter dan pondasi 1 meter menjadi infrastruktur “bonzai” yang kerdil, tipis, dan tampak seperti deretan batu rakitan anak PAUD.
Menggunakan batu yang dicampur dengan batu kali dan adukan semen bercampur tanah. Daya rekatnya memang payah menahan air, tapi sangat ampuh melicinkan jalan menuju margin keuntungan.
Ajian Tuli Kolektif ini memang cukup ampuh untuk menutup mata dan telinga rapat-rapat dari jeritan warga dan kejaran media demi menjaga keharmonisan yang diduga dalam hal pembagian fee proyek.
Kehebohan ini membuktikan satu hal: Padepokan BPBD Lampung memang tiada tanding. Ketika struktur fisik tanggul di lapangan retak-retak dan nyaris menjadi pasir kembali, seluruh jajarannya pun ikut melayang tak berwujud.
Namun ingatlah wahai Pendekar Firdaus dan para sesepuh BPBD yang sedang bertapa bisu: setinggi-tingginya ilmu menghilang yang kalian kuasai, ketika air bah benar-benar menerjang dan kasus hukum bergulir, tidak ada ajian gaib yang sanggup menyembunyikan kalian dari panggilan Aparat Penegak Hukum.
Kini publik hanya bisa menunggu, siapakah “pawang gaib” atau aparat penegak hukum yang sanggup mematahkan ilmu menghilang masal ini dan membawa mereka kembali ke alam nyata untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya! (Red)

